Trip To Dago , Argo Parahyangan Review

00.21





Hay hay,
Tanggal 11 Januari 2020 kemarin aku pergi ke Bandung, tepatnya menuju Dago Village. Siapasih disini yang ngga tau Dago?
Kawasan yang terkenal asri, dingin, sejuk, emang cocok banget buat liburan singkat melepas penat. Apalagi untuk warga kota seperti aku, Dago memang tujuan yang tepat.
Dago berlokasi ‘diatas’ Bandung ini memang jadi incaran banyak orang. Karenanya, banyak investor sangat tertarik untuk berbisnis terutama mendirikan Villa di daerah sini.
Banyak tipe villa yang bias kalian temukan disini, dari yang hanya untuk pasangan (yang OK banget buat Hanimun), sampai untuk family.
Yes, Dago memang ramah dan cocok untuk segala kebutuhan. Disini aku akan ceritain gimana perjalanan kesana dan apa saja sih yang harus dipersiapkan, memingat Dago adalah daerah ketinggian..




Keep Reading..

Menuju ke Bandung, aku memutuskan naik kereta. Aku Bersama partnerku kala itu, karena keluargaku duluan menuju ke Bandung dengan transportasi pribadi. Aku yang sebulumnya ada keperluan mengharuskan aku ngga bareng family kesana.
Tentu saja aku hanya membawa barang-barangku. Yang kubawa hanya 2 tas.
1.     Tas Jinjing Besar
2.     Totebag

Nah, si tas jinjing besar ini kaya semi-koper gitu loh, brand nya Sophie Martin. Eits, serius bukan maksud promosi ya. But, honestly.. Sophie Martin ini buildnya kuat. Bahannya ngga ‘bercanda’, style Sophie Martin yang casual membuat produk mereka cocok untuk semua *menurutku.
Cocok untuk perjalanan dekat dengan semua kebutuhan pribadi sekitar 1-3 hari. Ya asal kita bisa mix n match pakaian sih proses packing akan semakin mudah. Apalagi kalau kita menginap di penginapan yang sudah tersedia perlengkapan mandi basic, makin ringkeslah bawaan kita.

Kalau Totebag nya, ini aku beli di Watsons. Karena waktu itu pas belanja kesana, Watsons PIM sudah tidak menyediakan kantong plastic lagi (so, proud). Kebetulan aku belanja banyak, yang pada akhinya aku belillah shopping bag mereka.
Hmm.. jadi ini sebenernya shopping bag, bukan tote bag. Apa shopping bag itu juga bisa disebut tote bag (?)

Perjalanan menuju Stasiun


Keretaku berangkat dari St. Gambir. Dan aku menuju kesana pakai Gocar. Transportasi online emang bener bener  life-saver!
Perjalanan dari Jakarta Selatan menuju Gambir yang alhamdulillah perjalanan lancar. Ya, itulah Jakarta, kalo weekday jalanan akan lancar. Dan terasa padat hanya di sekitar pusat perbelanjaan di jam jam crowded.
Menunggu sekitar 1 jaman kita sampai stasiun langsung menuju ke tempat penukaran e-voucher. Kami beli tiket di Traveloka, dan penukara tiket kereta itu juga sekarang semudah itu!
All digital ..
Tanpa di pandu pun semua bisa. Hanya scan barcode yang tertera tanpa registrasi apapun di tempat, langsung tiket kita keluar. Cool.

Karena waktunya yang agak terasa mepet. Kami putuskan untuk lunch dikereta saja nanti.
20 menit sebelum keberangkatan keretannya sudah standby, dan ngga pakai nunggu diluar, kita langsung aja masuk kedalam.

KA Argo Parahyangan


Selama menuju ke tempat duduk kita, beberapa penumpang banyak yang memakai jasa porter. Ohiya, porter ini selalu standby di banyak tempat di stasiun, kalian ngga akan sulit menemukan porter. Mereka banyak, dan mungkin cuma terkadang aja kalau sampai mereka sibuk semua.
Kita ngga pakai jasa porter, karena bawaan kita yang hanya sedikit. Jadi aku ngga bisa kasih tau nih harus kasih tip berapa ke mereka. Kalo ngga salah seikhlasnya deh, maybe min 20K(?).

Start..

KA Argo Parahyangan itu ontime!
Di jadwal tertulis berangkat jam 13:10. Dan benar benar di detik itu roda Kereta Api bergerak. Waw, good job KA! Aku pertama kali review KA terontime itu Kereta Bandara Railink (bisa liat reviewnya disini)

Aku menikmati perjalanan (tapi agak laper), dan sekitar 30 menit setelahnya, diberitahukan kalau makanan akan segera tiba. Mereka menyebutkan makanan yang tersedia.
Sebenernya banyak yang dibawa, hanya pas sampai di kursiku sisa makanan tinggal nasi goreng baso.
Harganya standar makanan kemasan yang di Indomaret itu loh, 25 ribuan sampai 45 ribuan. Maaf aku lupa lagi makananku harganya berapa-_-
Total yang kami ambil, 2 box nasi goreng baso + You C1000 yang botol plastic + Teh hangat , semua jadi 80 ribuan.

Misalkan pun kalian pengen coba varian lebih banyak, mungkin aja masih tersedia di pantry/kantin. Lokasinya di gerbong paling belakang kereta.
Di Kantin juga tersedia banyak meja dan kursi, ya standar layaknya kantin biasa. Dan biasanya sepi.
Kalau ngga mau ribet, ternyata pas aku beli teh panas. Handle yang anti panas itu mereka pasangin iklan untuk menghubungi bagian kitchen kalau kita mau pesen something.


Gimana rasa makanannya?

Hmm jujur makanannya so,,so aja sih. Standar, biasa aja, tapi mengenyangkan. Dibilang enak ya enak.
Kekurangannya, pas dibuka gitu keliatan ‘kosong’, jadi jangan membayangkan sepadet nasi box pada umumnya deh. Hahaha

Sesudah makan, sekitar 15 menitan ada OB keliling. Yang membawa ‘kantong sampah’, jadi sehabis kita makan, kan pasti rishi ya dan sempit bekas makanan nya di tempat kita. Nah OB keliling ini membantu banget nih, ngga usah jalan jalan mencari tong sampah dan tanpa mengotori kereta, kita bisa titip sampah kita ke beliau.

Toilet

Untuk Toiletnya, mayan challenging ya perjalanannya. Hahaha.
Toilet tersedia di perbatasan setiap gerbong, mau jalan kedepan atau cari toilet belakang, semua gerbong punya toilet sendiri.
Pintunya pintu lipet, dan beraaat. Beresiko terjepit. Susah banget aku filming nya pas proses buka pintu makannya aku skip. Didalem balik pintu, selah selah ‘lipatan’ pintunya itu kaya dikasih plastik. Pasti mencegah agar ngga kejepit.
Ohiya!!
Harus diperhatikan, kalian kalau kunci pintu toilet kereta jangan yang di pojok ya, tapi yang DITENGAH. Banyak orang sepertinya merasa pintu sudah terkunci, tapi kunci selot di pinggir pintu ngga berpengaruh apapun. Perhatikan bagian kunci di tengah pintu, pokoknya coba untuk dibuka pintunya lagi pas kalian didalem. Pastikan pintu BENAR BENAR TERKUNCI.

Karena pernah ada kejadian aku buka pintu dari luar dan ada bapak bapak lagi buang air kecil, buset itu awkward banget aku pas tau ada orang didalem langsung kabur. Dan dari sinilah aku belajar, kalo pintu toilet KA itu emang berbeda. Masih bingung sih aku, buat apa ya selot yang ngga berfungsi itu dipasang(?) kan jadi mengelabui penumpang.

Perjalanan kami menuju Bandung ngga sampai 4 jam. Kalau naik travel, itu kaiian estimasi bisa 5 jaman, belum dihitung macet. Eh tapi 4 jam ini berlaku untuk Argo Parahyangan di Gambir ya. Katanya kalau naik dari Senen dan berbeda kereta, estimasinya juga ga akan sama. Mungkin yang membedakan bisa karena banyak transitnya.

Arrived…

Waw, ternyata weekend merupakan hari sibuk di Stasiun Kota Bandung.
Cukup ramai disini, dari orang yang turun barusan sampai yang baru mau mulai keberangkatan.

Karena ada titipan something dari Baginda Ratu, akhirnya melipir dulu deh ke Alfa Express.
Sepertinya sudah menjadi keharusan ya every station, ada minimartnya. Untuk kondisi genting sangat membantu.

Aku memulai perjalanan kedua ku menuju puncak, alias Dago dengan menggunakan ojek. Ya, lebih singkat dan juga cepat menurutku.
Si Ojol ini ngga bisa masuk kedalam, kalian harus keluar, dan ketemuan depan Mayasari aja yang gampang landmarknya. Banyak juga ko ojol yang nunggu disitu.
Kalo naik mobil online pastinya bisa minta jemput kedalam.

Udara Bandung emang bener bener semeriwing sih, rasanya penyegaran buat aku yang everyday life at Jakarta ini hahaha.

Ongkos Gojek aku dari Stasiun Bandung menuju Dago Village (Villa Zahra C8) sebesar 30 ribuan.
Kaya terasa ngga terlalu jauh ya.

Hmm,, padahal lumayan lah, masuk masuk jalanan yang sekitarnya curam. Jauh dari kesibukan perkotaan Bandung.



Villa Zahra C8 – Dago Village.


Ngga sulit ko untuk nemuin tempatku ini, karena sudah ada koordinatnya di google. Ett,, tapii pas perjalanan menuju kesana itu, aku ngga ada sinyal, dana bang ojol sinyalnya juga jadi eror. Ya maklum kan semakin keatas.


Photo ; Blibi.com

Aku sangat menyarankan kamu kalau kesini mau naik ojol kek, mobil kek, becak kek. Tolong kondisi nya pas masih TERANG. Maksimal banget ini ya, magrib. Setelah magrib aku ngga rekomen. Jalanan curam, banyak jurang, pohon ilalang di sekitar. Biar perjalanan tenang meningan kesini pas masih terang.

Sekitar 30 menit setelah sampai, aku baru bisa filming sedikit. Jujur ya agak bete karena ngga ada signal! Aku pakai TELKOMSEL.
Semuanya juga yang Telkomsel, sinyal susah. Pelit.
But, kata adeku sinyal dia yang smartfren malah good. Bisa 20mbps. Hmmm..

Disini tersedia Wifi, tapi sama aje, malah tambah lemot. Meningan pakai data sendiri.


Aktifitas Malam


Aku beneran nikmatin aja dan ngga filming banyak, pertama karena mau me time sama keluarga, dan susah sinyal udah bete duluan. Kondisi malam hari juga ngga ok banget buat filming, hasil bisa bersemut dan I don’t like it.

Kita semua ada yang karokean, ngerumpi, nge grill buat camilan, dinner, bikin popcorn. Almost all facility kita pakai semua,

Nah, perjalanan aku sudah ku dokumentasikan di video ku yang ini,
Aku ngga kasih gambar apapun di blog ini. Jadi, silahkan kalian nonton dulu ya VLOG TRIP 1 aku..

HAPPY WATCHING!



But..
But..
But…

Emang fasilitas di Villa Zahra C8 ini apa ajasih? Nantikan VLOG ke 2 aku ya!

~soon will be updated.




You Might Also Like

0 comments